Jakarta – Survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa minat masyarakat untuk menempatkan dananya di perbankan seperti tabungan atau deposito turun. Bagaimana dengan minat investasi properti?

Rumah.com mencatat, pada Mei 2019 sebanyak 43,8% responden menyatakan akan menempatkan kelebihan pendapatannya dalam kurun waktu 12 bulan dalam bentuk tabungan atau deposito, turun dibandingkan bulan sebelumnya yakni 44,9%.

Berbanding terbalik dengan deposito, minat masyarakat pada sektor investasi properti dan barang berharga berbentuk emas perhiasan meningkat.

Berdasarkan survei yang dirilis Selasa (12/6/2019), instrumen investasi yang banyak dipilih oleh konsumen adalah properti sebesar 24%, dan emas perhiasan 18,5%. Keduanya meningkat dibandingkan survei pada April 2019 yang masing-masing 22,3% dan 18,3%.

Kondisi tahun ini agaknya telah berbeda dibandingkan dengan kondisi pada 2018. Tahun lalu tekanan kenaikan bunga dihadapi baik oleh konsumen maupun pengembang dengan naiknya suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate.

Sepanjang 2018, BI 7-Day Reverse Repo Rate telah naik sebanyak enam kali merespon kenaikan suku bunga bank sentral amerika The Fed. Pada awal tahun, suku bunga acuan Bank Indonesia dipatok 4,25%. Besaran suku bunga tersebut ditahan oleh BI hingga April. Kemudian pada Mei, BI mulai menaikan suku bunga acuan menjadi 4,50%. Selanjutnya dari Mei hingga Desember, suku bunga acuan naik 175 bps dari 4,50% menjadi 6,00%.

Kenaikan suku bunga akan membuat pengembang menaikkan harga jual properti. Pasalnya kondisi tersebut mempengaruhi biaya produksi terutama harga bahan konstruksi untuk proyek yang sedang berjalan. Di sisi lain tren kenaikan suku bunga menjadi momentum memarkir dananya di deposito.

Sementara itu, tahun ini sinyal penurunan suku bunga justru diprediksikan akan terjadi. Bank Indonesia membuka ruang kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya inflasi dan upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Hal itu termasuk memangkas tingkat suku bunga.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Independen Ciputra Grup, Tulus Santoso, mengatakan rezim suku bunga tinggi telah berakhir. Terbukanya ruang penurunan suku bunga diharapkan bisa menggairahkan penjualan hingga akhir tahun ini kendati tidak langsung signifikan.

Pilihan investasi saat ini beragam, mulai dari menabung deposito, membeli emas, jual-beli properti, dan menanam modal di pasar saham.  Sebelum menanamkan dana dalam salah satu pilihan investasi, lebih baik kenali dulu plus-minusnya.

Deposito

Saat ini deposito menawarkan suku bunga minimal 4% untuk jangka waktu 1 bulan hingga 7% untuk jangka waktu 1 tahun. Besaran bunga yang didapatkan adalah pasti. Namun, pertumbuhan dana masih terhitung sangat minim.

Emas Untuk Perlindungan Aset Anti-Inflasi

Emas merupakan instrument Safe Haven dengan nilainya yang tetap. Banyak orang senang memiliki emas ketimbang tunai karena  saat krisis tidak tergerus inflasi. Emas pun cocok untuk mengamankan dana agar nilainya tidak berkurang. Harga emas sebanding dengan inflasi yang ada.

Properti Untuk Pertumbuhan Dana Dan Pemasukan Rutin

Properti memiliki nilai yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Selain bisa dihuni, bisa diwariskan, dan bisa disewakan. Namun, ketika ekonomi memburuk dan permintaan rendah, menjual properti tidak semudah menjual emas.